Oleh: Zulkifli Aneuk Syuhada (Sekdes Pante Rambong)
Di sela kesibukan sebagai pelayan masyarakat, tak semua aparatur desa punya waktu untuk diri sendiri. Namun pagi itu, Kamis (26 Juni 2025), sejumlah aparatur Desa Pante Rambong memilih untuk meletakkan pena, menutup laptop, dan meninggalkan meja pelayanan. Tujuan mereka satu: menghadiri zikir bersama dalam rangka menyambut 1 Muharram 1447 H di Masjid Raya Baiturrahim, Lhok Nibong.
Bagi sebagian orang, ini hanya kegiatan tahunan. Tapi bagi para aparatur desa ini, pagi itu terasa seperti perjumpaan kembali dengan suara hati yang lama terlupakan. Di tengah lantunan zikir dan doa yang menggema, mereka tak lagi berstatus sebagai “perangkat desa”—mereka hanyalah manusia biasa, yang mencoba mendekat kepada Tuhan setelah sekian lama tenggelam dalam rutinitas duniawi.
Beberapa dari mereka datang lebih awal, mengambil posisi duduk di shaf tengah. Tak ada lencana, tak ada kursi istimewa. “Kami ingin mengikuti acara ini bukan karena undangan atau formalitas, tapi karena kami merasa butuh. Tugas di desa tak pernah selesai, tapi jiwa kami pun butuh diisi,” ujar salah satu kepala seksi yang hari itu memilih diam, lebih banyak mendengar zikir daripada berbicara.
Kehadiran mereka menjadi pesan sunyi: bahwa yang disebut pemimpin bukan hanya soal jabatan, tapi juga tentang kemampuan menundukkan hati. Bahwa di tengah kuasa dan wewenang administratif, masih ada ruang untuk merenung dan memperbaiki diri.
Abi Muzakir memimpin zikir dengan suara tenang namun menggetarkan. Suara-suara istighfar mengalun bersahutan, menciptakan harmoni yang tak terdengar di kantor desa manapun. Di pojok masjid, seorang aparatur tampak mengusap air mata. Mungkin itu air mata lelah, mungkin juga penyesalan. Atau bisa jadi, itu hanya bentuk kelegaan: bahwa akhirnya ada waktu sejenak untuk berhenti dan kembali pada fitrah.
Tausiah dari Abi Ismail menambahkan makna pagi itu. Dengan gaya yang sederhana namun menyentuh, ia menyampaikan bahwa hijrah sejati bukanlah tentang berpindah tempat, tapi berpindah hati—dari ego menuju ihlas, dari kuasa menuju pelayanan.
“Kalau ingin desa kalian diberkahi, maka mulai dari diri kalian. Bereskan hati, kuatkan niat, dan jagalah amanah,” katanya.
Bagi aparatur desa Pante Rambong, pagi 1 Muharram itu menjadi ruang belajar yang tak bisa didapat dari pelatihan teknis manapun. Mereka belajar bahwa ketundukan dalam zikir adalah fondasi bagi kepemimpinan yang adil. Bahwa pelayanan publik tak akan pernah benar-benar ikhlas jika hati tidak dipenuhi kesadaran spiritual.
Dan yang lebih penting: mereka belajar bahwa tak ada salahnya mengambil waktu sejenak, meninggalkan meja kantor untuk duduk bersila di lantai masjid—mengakui bahwa sebesar apapun tanggung jawab di dunia, tetap ada yang lebih besar di hadapan Tuhan.
Ketika acara selesai dan jamaah mulai pulang, para aparatur desa kembali ke kendaraan masing-masing. Tapi mereka tak benar-benar kembali seperti sebelumnya. Ada yang berbeda: cara berjalan yang lebih tenang, cara menatap yang lebih dalam, dan mungkin, tekad dalam hati yang kini lebih kuat untuk melayani dengan lebih tulus.
Di hari itu, 1 Muharram bukan hanya tentang tahun baru. Tapi tentang keberanian untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan bertanya: sudahkah aku menjadi hamba yang baik sebelum menjadi pemimpin yang benar?
Reporter: TIM DESA
Kirim Komentar