Desa Pante Rambong

Kec. Pante Bidari
Kab. Aceh Timur - Aceh

Info
Selamat Datang di Website Pemerintah Gampong Pante Rambong Waktu Berbuka Puasa 1 Maret 2025 18.45 Wib

Artikel

Sejarah Desa

Administrator

26 Agustus 2016

348 Kali dibuka

Sejarah Desa Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur

Awal Mula Pemukiman

Penduduk pertama yang membuka lahan di Pante Rambong datang dari berbagai daerah di Aceh, seperti Geudong, Lhokseumawe, Matang, Bireuen, bahkan dari Banda Aceh. Selain itu, banyak juga yang berasal dari kawasan timur, mulai dari Julok hingga Aceh Tamiang. Mereka datang untuk mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan karena tanah di daerah ini sangat subur dan cocok untuk berbagai jenis tanaman, seperti padi, kelapa, dan karet.

Selain pertanian, beberapa wilayah di Pante Rambong juga memiliki rawa dan aliran sungai yang digunakan untuk menangkap ikan dan memenuhi kebutuhan air bagi penduduk. Seiring waktu, perkampungan ini berkembang menjadi desa yang lebih besar dengan sistem sosial dan ekonomi yang semakin tertata.

Eksplorasi Minyak dan Kehadiran ExxonMobil

Pada pertengahan abad ke-20, Pante Rambong menjadi bagian dari eksplorasi minyak yang dilakukan oleh perusahaan asing. Pada tahun 1960-an, perusahaan Asamera (Aceh Sumatra National Oil Company) mulai melakukan pengeboran minyak di beberapa wilayah Aceh Timur, termasuk di sekitar Pante Rambong.

Eksplorasi ini kemudian diambil alih oleh ExxonMobil, yang melanjutkan produksi minyak di daerah ini. Keberadaan industri perminyakan membawa dampak ekonomi bagi sebagian penduduk, terutama mereka yang bekerja di sektor ini. Namun, dampak lingkungan dan pengurangan lahan pertanian akibat aktivitas pengeboran menjadi tantangan tersendiri bagi warga desa.

Pante Rambong dalam Konflik Aceh (1999–2005)

Pante Rambong dikenal sebagai salah satu basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) selama konflik Aceh. Akibatnya, desa ini sering menjadi lokasi bentrokan antara GAM dan aparat keamanan Indonesia.

Pada awal tahun 1999, meningkatnya ketegangan di Aceh Timur menyebabkan banyak warga Pante Rambong mengungsi ke Masjid Raya Lhok Nibong, yang saat itu menjadi ibu kota Kecamatan Pante Bidari. Pengungsian ini terjadi akibat operasi militer yang semakin intensif di desa-desa yang dianggap sebagai basis GAM, termasuk Pante Rambong.

Para pengungsi yang tinggal di Masjid Raya Lhok Nibong menghadapi kondisi sulit, dengan keterbatasan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan. Beberapa dari mereka bahkan melanjutkan perjalanan ke daerah yang lebih aman, seperti Peureulak dan Langsa.

Selama masa darurat militer (2003–2004), desa ini menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling berat. Banyak penduduk kehilangan rumah dan lahan pertanian mereka. Selain itu, aktivitas ekonomi dan sosial hampir terhenti karena ketegangan yang terus berlanjut.

Pemulihan Pascakonflik dan Pembangunan Desa

Setelah penandatanganan Perjanjian Damai Helsinki pada tahun 2005, warga Pante Rambong yang mengungsi mulai kembali ke desa mereka. Pemerintah bersama masyarakat berusaha membangun kembali desa, termasuk membangun rumah, memperbaiki jalan, dan mengaktifkan kembali sektor pertanian serta perkebunan.

Program rehabilitasi pascakonflik yang dijalankan pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan membantu pemulihan ekonomi desa. Selain itu, program reintegrasi mantan kombatan GAM ke dalam masyarakat turut berperan dalam menciptakan stabilitas sosial.

Saat ini, Pante Rambong terus berkembang dengan sektor pertanian dan perkebunan sebagai tulang punggung ekonomi. Selain itu, infrastruktur desa seperti sekolah, jalan, dan fasilitas umum lainnya semakin membaik, meningkatkan kualitas hidup penduduknya.

Kesimpulan

Sejarah Desa Pante Rambong mencerminkan perjalanan panjang dari masa pembukaan lahan oleh para perintis pertanian, eksplorasi minyak oleh perusahaan asing, dampak konflik Aceh, hingga proses pemulihan dan pembangunan kembali desa.

Dengan semangat gotong royong dan kerja keras, masyarakat desa terus berusaha menciptakan masa depan yang lebih baik, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Oleh: Zulkifli. SH alias Aneuk Syuhada
Sekretaris desa Pante Rambong

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

Komentar Facebook

Aparatur Desa

Kepala Desa

HERMANTO

Sekretaris Desa

ZULKIFLI, SH

Kaur Umum dan Perencanaan

IBRAHIM

Kaur Keuangan

MUKHTAR

Kasi Pelayanan

HAMBALI

Kasi Kesejahteraan

ZUKIFLI ALI

Kasi Pemerintahan

Muhammad Nazar

Kadus Alue Nek

LUKMANULHAKIM

Kadus Alue Meunueang

ALAMSYAH

Kadus Tualang

TARMIZI

Kadus Alue Rincong

MUKHLIS

Kadus Tanjong Meuluewuek

SAIFUDDIN

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Desa Pante Rambong

Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Aceh

Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini:66
Kemarin:168
Total:42.861
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:216.73.216.23
Browser:Mozilla 5.0

Transparansi Anggaran

APBDes 2025 Pelaksanaan

Pendapatan

AnggaranRealisasi
Rp 1.220.009.941,00Rp 1.220.009.941,00

Belanja

AnggaranRealisasi
Rp 1.087.906.308,90Rp 55.528.630.890,00

APBDes 2025 Pendapatan

Dana Desa

AnggaranRealisasi
Rp 914.979.000,00Rp 914.979.000,00

Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi

AnggaranRealisasi
Rp 19.237.941,00Rp 19.237.941,00

Alokasi Dana Desa

AnggaranRealisasi
Rp 285.793.000,00Rp 285.793.000,00

APBDes 2025 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa

AnggaranRealisasi
Rp 549.906.308,90Rp 54.990.630.890,00

Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa

AnggaranRealisasi
Rp 336.900.000,00Rp 336.900.000,00

Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa

AnggaranRealisasi
Rp 79.500.000,00Rp 79.500.000,00

Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Desa

AnggaranRealisasi
Rp 121.600.000,00Rp 121.600.000,00

Lokasi Kantor Desa

Latitude:4.9777758
Longitude:97.5006135

Desa Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur - Aceh

Buka Peta

Wilayah Desa